Minggu, 15 Januari 2012

Ajaran Dasar Thoriqoh Naqsyabandiyyah


Syaikh Amin Al Kurdi menjelaskan ada 11 (sebelas) dasar ajaran Tarikat Naqsyabandiyah, yaitu :

1). “Huwasy Dardam” , yaitu pemeliharaan keluar masuknya nafas, supaya hati tidak lupa kepada Allah SWT atau tetap hadirnya Allah SWT pada waktu masuk dan keluarnya nafas. Setiap murid atau salik menarikkan dan menghembuskan nafasnya, hendaklah selalu ingat atau hadir bersama Allah di dalam hati sanubarinya. Ingat kepada Allah setiap keluar masuknya nafas, berarti memudahkan jalan untuk dekat kepada Allah SWT, dan sebaliknya lalai atau lupa mengingat Allah, berarti menghambat jalan menuju kepada- Nya.

2). “Nazhar Barqadlam” yaitu setiap murid atau salik dalam iktikaf/suluk bila berjalan harus menundukkan kepala, melihat ke arah kaki dan apabila dia duduk dia melihat pada kedua tangannya. Dia tidak boleh memperluas pandangannya ke kiri atau ke kanan, karena dikhawatirkan dapat membuat hatinya bimbang atau terhambat untuk berzikir atau mengingat Allah SWT. Nazhar Barqadlam ini lebih ditekankan lagi bagi pengamal tarikat yang baru suluk, karena yang bersangkutan belum mampu memelihara hatinya.

3). “Safar Darwathan”  yaitu perpindahan dari sifat kemanusiaan yang kotor dan rendah, kepada sifat-sifat kemalaikatan yang bersih dan suci lagi utama. Karena itu wajiblah bagi si murid atau salik mengontrol hatinya, agar dalam hatinya tidak ada rasa cinta kepada makhluk.

4). “Khalwat Daranjaman” yaitu setiap murid atau salik harus selalu menghadirkan hati kepada Allah SWT dalam segala keadaan, baik waktu sunyi maupun di tempat orang banyak. Dalam Tarikat Naqsyabandiyah ada dua bentuk khalwat :

a. Berkhalwat lahir, yaitu orang yang melaksanakan suluk dengan mengasingkan diri di tempat yang sunyi dari masyarakat ramai.

b. Khalwat batin, yaitu hati sanubari si murid atau salik senantiasa musyahadah, menyaksikan rahasia- rahasia kebesaran Allah walaupun berada di tengah- tengah orang ramai.

5). “Ya Dakrad” yaitu selalu berkekalan zikir kepada Allah SWT, baik zikir ismus zat (menyebut Allah, Allah,.), zikir nafi isbat (menyebut la ilaha ilallah), sampai yang disebut dalam zikir itu hadir.

6). “Bar Kasyat” yaitu orang yang berzikir nafi isbat setelah melepaskan nafasnya, kembali munajat kepada Allah dengan mengucapkan kalimat yang mullia
“Wahai Tuhan Allah, Engkaulah yang aku maksud (dalam perjalanan rohaniku ini) dan keridlaan-Mulah yang aku tuntut”. Sehingga terasa dalam kalbunya rahasia tauhid yang hakiki, dan semua makhluk ini lenyap dari pemandangannya.

7).“Nakah  Dasyat” yaitu setiap murid atau salik harus memelihara hatinya dari kemasukan sesuatu yang dapat menggoda dan mengganggunya, walaupun hanya sebentar. Karena godaan yang mengganggu itu adalah masalah yang besar, yang tidak boleh terjadi dalam ajaran dasar tarikat ini.

Syekh Abu Bakar Al Kattani berkata, “Saya menjaga pintu hatiku selama 40 (empat puluh) tahun, aku tiada membukakannya selain kepada Allah SWT, sehingga menjadilah hatiku itu tidak mengenal seseorang pun selain daripada Allah SWT.”
Sebagian ulama tasawuf berkata “Aku menjaga hatiku 10 (sepuluh) malam, maka dengan itu hatiku menjaga aku selama 20 (duapuluh) tahun.”

8).“Bad Dasyat”  yaitu tawajuh atau pemusatan perhatian sepenuhnya pada musyahadah, menyaksikan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Allah SWT terhadap Nur Zat Ahadiyah (Cahaya Yang Maha Esa) tanpa disertai dengan kata- kata. Keadaan “Bad Dasyat” ini baru dapat dicapai oleh seorang murid atau salik, setelah dia mengalami fana dan baka yang sempurna. Adapun tiga ajaran dasar yang berasal dari Bahauddin Naqsyabandi adalah,

9).“Wuquf Zamani”  yaitu kontrol yang dilakukan oleh seorang murid atau salik tentang ingat atau tidaknya ia kepada Allah SWT setiap dua atau tiga jam. Jika ternyata dia berada dalam keadaan ingat kepada Allah SWT pada waktu tersebut, ia harus bersyukur dan jika ternyata tidak, ia harus meminta ampun kepada Allah SWT dan kembali mengingat- Nya.

10).“Wuquf ‘Adadi” yaitu memelihara bilangan ganjil dalam menyelesaikan zikir nafi isbat, sehingga setiap zikir nafi isbat tidak diakhiri dengan bilangan genap. Bilangan ganjil itu, dapat saja 3 (tiga) atau 5 (lima) sampai dengan 21 (duapuluh satu), dan seterusnya.

11).“Wuquf Qalbi” yaitu sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Ubaidullah Al- Ahrar, “Keadaan hati seorang murid atau salik yang selalu hadir bersama Allah SWT”. Pikiran yang ada terlebih dahulu dihilangkan dari segala perasaan, kemudian dikumpulkan segenap tenaga dan panca indera untuk melakukan tawajuh dengan mata hati yang hakiki, untuk menyelami makrifat Tuhannya, sehingga tidak ada peluang sedikitpun dalam hati yang ditujukan kepada selain Allah SWT, dan terlepas dari pengertian zikir.



Ahli Shufi


Ilmu Tasawwuf adalah salah satu cabang dari ilmu-ilmu Islam yang utama, iaitu Ilmu Tauhid (Usuluddin), Ilmu Feqah dan Ilmu Tasawwuf.

Ilmu Tauhid bertugas membahas soal-soal I'tiqad, seperti I'tiqad mengenai ketuhanan, kerasulan, hari akhirat dan lain-lain lagi.

Ilmu Feqah bertugas membahas soal-soal ibadat lahir, seperti sembahyang, puasa, zakat, naik haji dan lain-lain.

Ilmu Tasawwuf bertugas membahas soal-soal yangbertalian dengan akhlak dan budi pekerti, bertalian dengan hati, iaitu cara-cara Ikhlas, khusyuk, tawadduk, muraqabah, mujahadah, sabar, redha, tawakkal dan lain-lain yang bertalian dengan hati.

Ringkasnya: Tauhid takluk kepada i'tiqad, Feqah takluk kepada amal ibadah, dan Tasawwuf takluk kepada akhlak, iaitu amalan hati.

Kepada setiap orang Islam dianjurkan supaya beri'tiqad sebagaimana yang diatur dalam Ilmu Tauhid, supaya beribadat sebagaimana diatur dalam Ilmu Feqah, dan supaya berakhlak sesuai dengan Ilmu Tasawwuf.

Sepanjang sejarah, dalam Ilmu Tauhid (Usuluddin) telah muncul ulama'-ulama' besar, seperti:
  1. Shaikh Abu Hassan al-Asyaari (wafat 324 H)
  2. Shaikh Abu Mansur al-Maturidi (wafat 333 H)
  3. Shaikh al-Baqalani (wafat 403 H)
  4. Shaikh al-Asfarini (wafat 406 H)
  5. Shaikh al-Qusyairi (wafat 465 H)
  6. Shaikh al-Juwaini (Imam al-Haramain, wafat 460 H)
    Dan lain-lain
Dalam Ilmu Feqah telah muncul ulama'-ulama' besar, seperti:
  1. Imam Hanafi (wafat 150 H)
  2. Imam Maliki (wafat 179 H)
  3. Imam Syafie (wafat 205 H)
  4. Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 241 H)
  5. Imam al-Juwaini (wafat 460 H)
  6. Imam Nawawi (wafat 676 H)
  7. Imam al-Ramli (wafat 1004 H)
  8. Imam Ibnu Hajar al-Haitimi (wafat 974 H)
  9. Imam Khatib Syarbini (wafat 977 H)
  10. Syeikh Zakaria al-Ansori (wafat 926 H)
    Dan lain-lain.
Dalam Ilmu Tasawwuf telah muncul ulama'-ulama' besar, seperti:
  1. Shaikh Hassan Basri (wafat 110 H)
  2. Shaikhah Rabiatul Adawiah (wafat 135 H)
  3. Shaikh Sufian al-Thauri (wafat 161 H)
  4. Shaikh Ibrahim bin Adham (wafat 161 H)
  5. Shaikh Shaqiq al-Balkhi (wafat 195 H)
  6. Shaikh Maaruf al-Kharkhi (wafat 200 H)
  7. Shaikh al-Sirri al-Siqti (wafat 257 H)
  8. Shaikh Dzun al-Nun al-Misri (wafat 245 H)
  9. Shaikh Junaid al-Baghdadi (wafat 297 H)
  10. Shaikh Abu Yazid al-Bustami (wafat H)
  11. Shaikh Abu Talib al-Makki (wafat 386 H)
  12. Shaikh al-Qusyairi (wafat 465 H)
  13. Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali (wafat 505 H)
    Dan lain-lain.
Mereka inilah di antaranya ulama'-ulama' yang mengodak, merumuskan, dan langsung membukukan ilmu-ilmu dalam babnya masing-masing, iaitu dalam Usuluddin, Feqah dan Tasawwuf, sehingga kita sekarang dapat menikmati usaha mereka itu dengan membaca kitab-kitabnya dan mempelajari pendapat-pendapatnya dalam pelbagai kitab yang terbit kemudian.

Sesudah masa abad mereka ini, muncullah berpuluh-puluh dan bahkan sampai beratus-ratus ulama' Islam yang mengikuti jejak mereka itu dengan mengarang buku-buku dan kitab-kitab yang bertalian dengan ilmu Usuluddin, Feqah dan Tasawwuf yang sampai waktu sekarang kita pelajari dan kita nikmati serta kita ikuti.

Sebagai yang kami huraikan di atas bahawa sasaran ajaran Tasawwuf ialah akhlak dan budi pekerti yang baik berdasarkan kasih cinta kepada Tuhan.

Kerana itu ajaran tasawwuf terdapat dalam hampir setiap agama, seperti dalam agama Buddha, agama Yahudi, agama Kristian dan lain-lain agama kerana tujuan dari agama-agama itu mulanya adalah akhlak yang baik, budi pekerti yang luhur berdasarkan cinta kasih kepada Tuhan.

Oleh kerana itu andaikata terdapat persamaan ajaran antara Buddha atau Kristian dalam soal tasawwuf dengan Islam, maka janganlah cepat-cepat diambil kesimpulan bahawa tasawwuf itu diambil dari agama Buddha atau Kristian.

Seorang ulama' wanita ahli tasawwuf yang besar, Rabiatul Adawiyyah (wafat 135 H) mendasarkan tasawwuf pada "KASIH" dan "CINTA" berdasarkan "HUBB". Tetapi beliau bukan mengambil kasih dan cinta itu daripada ajaran agama Kristian, sebab menurut sejarah Islam Rabiatul Adawiyah tidak dikenal pernah belajar kepada orang-orang Kristian.

HUBB atau CINTAnya Rabiatul Adawiyah berdasarkan Islam, bersumberkan Quran dan Hadith, dan "HUBB" yang ada di dalam ajaran Kristian tentu berdasarkan ajaran-ajaran al-Masih.

Sama juga hal keadaannya dalam Ilmu Tauhid dan Feqah, maka di dalam Ilmu Tasawwuf terdapat kitab-kitab yang menerangkan secara gembeling akan Ilmu Tasawwuf itu dan sangkut pautnya dengan al-Quran dan Hadith, dengan ama-amal sahabat nabi, tabien dan tabi at-tabien.

Kitab-kitab itu tersiar luas di seluruh pelusuk dunia Islam, di antaranya:
  1. Ihya' 'Ulumuddin karangan Imam al-Ghazali
  2. Mau'zah al-Mukminin Muhtasar Ihya' Ulumuddin karangan al-Qasimi
  3. Bimbingan Untuk Mencapai Tingkat Mukmin (Terjemahan Mau'zah al-Mukminin), Bahasa Indonesia - huruf latin, terjemahan Muhammad Abdul al-Rathmi
  4. Risalah al-Qusyairiah karangan al-Qusyairi
  5. Tazkirah al-Qurtubi karangan al-Sya'arani
  6. al-Hikam karangan Ibnu 'Ata'illah
  7. Kitab al-Arbain karangan al-Ghazali
  8. Mikraj as-Salikin karangan al-Ghazali
  9. Minhaj al-'Arifin karangan al-Ghazali
  10. Minhaj al-'Abidin karangan al-Ghazali
    Dan lain-lain.
Kitab-kitab ini menghuraikan dan menggali Ilmu Tasawwuf sedalam-dalamnya dari al-Quran dan Hadith sehingga Ilmu itu menjadi terang benderang, dapat dijadikan seluruh dan pedoman dalam menggamalkan tasawwuf dengan cara yang benar.
Oleh kerana itu sekelian umat Islam yang berfaham Ahli Sunnah wal Jamaah dalam i'tiqad dan menganut mazhab yang empat dalam syariat dan ibadat, mengamalkan ajaran tasawwuf dan berpegang teguh kepada pengajian-pengajiannya.

Dan untuk melengkapi pengajian-pengajian tasawwuf, ahli-ahli sufi mengadakan istilah-istilah yang terkenal dalam Ilmu Tasawwuf, sama juga halnya dengan ulama'-ulama' Feqah mengadakan istilah-istilah yang bertalian dengan Ilmu Feqah. memang, setiap ilmu mempunyai istilah-istilah yang sendiri.

Alhamdulillah, setahu kita Umat Islam di seluruh dunia terutamanya di nusantara ini (Indonesia dan Malaysia), ulama'-ulama'nya mengamalkan sebaik-baiknya ajaran tasawwuf itu. Mereka khusyuk dan tawadduk kepada tuhan, Mujahadah dan Muraqabah, Sabar dan Tawakkal, mereka menjauhi urusan duniawi yang berlebih-lebihan, mereka tidak mengejar ketingggian pangkat duniawi, mereka baik dan jujur, dan lain-lain sifat yang baik yang diajarkan dalam Ilmu Tasawwuf.

Maqbaroh Maulana Sidi Syaikh Syamsuddin Habibulloh QS,


Untuk a’lam. 

Maqbaroh Imam Ali KW


Maqbaroh Maulana Sidi Syaikh Imam Robbani Ahmad Faruqi Sirhindi QS




Jumat, 23 Desember 2011

Maqbaroh Maulana Sidi Syaikh Abu Yazid Al Busthomi QS


Maqbaroh Maulana Sidi Syaikh Sayyid Amir Kulal QS


Maqbaroh Maulana Sidi Syaikh Baba As Samasi QS


Gua Hiro


Maqbaroh Maulana Sayyidi Syaikh Abdul Kholiq Al Khujdawani QS


Tawassul


Lathoif


Lathoif